Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Bupati Dogiyai Kecewa dengan Standar Festival Kopi Papua Tengah

    Bupati Tebai: Kopi Dogiyai Potensi Terbesar Papua Tengah, Siap Dikembangkan Secara Berkelanjutan

    TPNPB-OPM Laporkan Pergerakan TNI di Paniai, Sampaikan Peringatan

    Dua Rumah Ibadah dan Rumah Warga Terbakar, Bantuan BTT Mulai Disalurkan

    Perjalanan Pembangunan Gereja Idakebo: Pengorbanan Umat dan Harapan Goa Maria

    Pembangunan Minimarket dan Bantuan Sembako, Langkah Dinas Koperasi Dogiyai Kembangkan Ekonomi Pro-Rakyat

    Panitia Penutupan Pelayanan Departemen Pemuda KINGMI Periode 2021-2026 Dilantik di Enarotali

    LPPL Yuyu Kominfo FM 107,7 MHz Mulai Diberi Pelatihan Penyiaran

    Kepala Distrik Kamuu Selatan Tegaskan Kedisiplinan & Pengisian E-Kinerja ASN

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Dari Dosa kepada Keselamatan dalam Perspektif Soteriologi

    Distrack for Hip-hop Merauke “pesta Babi”

    Mama Yasinta Moiwend: di Antara Propaganda, Manipulasi, dan Pencarian Kebenaran

    OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    TPNPB-OPM Laporkan Pergerakan TNI di Paniai, Sampaikan Peringatan

    Maybrat Berdarah Jelang 17 Agustus: YKKMP Negara Buka Fakta Minta Tiga Warga Sipil Terluka

    Juru Parkir Diduga Curi Noken Penjual di Depan Supermarket Hadi Biak

    IPMI-J Jayapura Dukung Aksi GPMI di Nabire, Desak DPR Papua Tengah Segera Tindaklanjuti Aspirasi Mahasiswa

    Mahasiswa Papua di Makassar Desak Investigasi Dugaan Pelanggaran HAM dan Dorong Dialog untuk Intan Jaya

    Dua Anggota TPNPB dan Seorang Warga Sipil Tewas dalam Operasi Militer di Yahukimo 

    IPMADO Dogiyai Tuntut Hentikan Militerisasi Pasca 5 Warga Tewas

    IPMADO: Kehadiran Militer Picu Ketakutan dan Lumpuhkan Aktivitas Warga Dogiyai

    Forum Solidaritas Mahasiswa di Gorontalo Serukan Perlindungan Warga Sipil dan Dialog Damai untuk Papua

  • Kesehatan

    Selamatkan Anak Negeri Paniai! KPA Gelar Sosialisasi Kepada Sahabat 06 Meepago Korwil Panai Diajak Cegah HIV/AIDS

    KPA Paniai Edukasi Ratusan Siswa SMP Negeri 1 Aradide tentang Pencegahan HIV/AIDS

    Adinkes Papua Tengah Perkuat Kemitraan PP-ATM di Paniai, Dorong Sinergi Lintas Sektor hingga Tingkat Kampung

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS bagi Ratusan Siswa Baru SMA Negeri 1 Paniai

    KPA Paniai Gelar Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS bagi Mudika Paroki Kristus Jaya Komopa, Tekankan Edukasi dan Hapus Stigma

    KPA Paniai Kembali Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS di Jemaat Maranatha Klasis Agadide

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Training Tutor, Membangun Generasi Berkarakter dan Berdaya Saing

    PAR Koordinator Aweepaida Paniai Gelar Seminar dan Pelatihan, KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi HIV-AIDS 

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

  • Lingkungan

    Distrack for Hip-hop Merauke “pesta Babi”

    Masyarakat Paniai Himbau Hentikan Pembakaran Hutan, Siap Serahkan Pelanggar ke Jalur Hukum

    Porter Yonii Paniai Apresiasi Kepedulian Bupati Yampit Nawipa, Minta Sekretariat Resmi untuk Tingkatkan Pelayanan

    Intelektual dan Mahasiswa Distrik Fajar Timur Gelar Konsolidasi Perdana, Bahas Persiapan MUBES Ke-II

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Pemkab Nabire atas Bantuan Bibit Jagung bagi Petani

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Rapat Panitia Persiapan Training Tutor AIDS

    DPW Tani Merdeka Papua Tengah Sosialisasi dan Tinjau Sektor Perikanan di Paniai

    Pemuda Kingmi Klasis Bogobaida Rayon Nabire Bergerak Galang Dana untuk Ret-Treat Akbar

    Porter Yonii Paniai Ajak Sopir dan Petugas Terminal Jaga Kekompakan di Karel Gobai Enarotali

  • Pendidikan

    Mahasiswa Afirmasi ADIK-ADEM Asal Intan Jaya Desak Pemkab Segera Cairkan Beasiswa, Sampaikan Delapan Tuntutan

    Kabid TK-PAUD Paniai: Sebanyak 515 Siswa dari 31 TK dan PAUD Telah Menyelesaikan Pendidikan Tahun Ajaran 2026

    Ketua BEM STAK Nabire Ajak Ratusan MABA 2026 Pahami Aturan Akademik dan Budaya Disiplin

    Di MPLS SMAN 2 Dogiyai, Kepala Distrik Kamuu Ajarkan Pemimpin Melayani

    TK Negeri Waikato Paapaa Aikai Buka Pendaftaran Peserta Didik Baru, Pendidikan Berkualitas Tanpa Dipungut Biaya

    TK Negeri Kagama Resmi Tamatkan 8 Siswa, Begini Pesan Kabid TK-Paud

    TK Negeri Ekadide Resmi Tamatkan 19 Siswa, Siapkan Generasi Emas Paniai

    17 Siswa TK Efata Kugitadi Resmi Ditamatkan, Kepala Sekolah Tekankan Pentingnya Pendidikan Sejak Dini

    TK Negeri Bobamo Gelar Penamatan, Kabid TK-Paud Apresiasi Dewan Guru dan Orang Tua 

  • Religi

    Bupati Dogiyai Serahkan Bantuan BTT, Dua Rumah Ibadah Terbakar di Mapia Tengah Siap Dibangun Kembali

    Perjalanan Pembangunan Gereja Idakebo: Pengorbanan Umat dan Harapan Goa Maria

    Gedung Gereja Paroki Idakebo Diresmikan, Bupati Tebai: Infrastruktur Rohani Penjaga Kedamaian

    Panitia Penutupan Pelayanan Departemen Pemuda KINGMI Periode 2021-2026 Dilantik di Enarotali

    Panitia HUT Merangkap Natal 2026 Pos PI Maranatha Resmi Dilantik, Begini Pesan Hamba Tuhan

    Ketua Klasis Debei Letakkan Batu Pertama Rumah Pastori Jemaat Anugrah Dadimani

    Orang Muda Katolik Tulang Punggung Gereja, KYD Jadi Sarana Pembinaan Berkelanjutan

    Tutup KYD ke-5: Orang Muda Katolik Diminta Miliki Iman Militan dan Optimis

    OMK Diajak Hidupkan Budaya dan Iman Atasi Penyakit Sosial di Dogiyai

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Dari Dosa kepada Keselamatan dalam Perspektif Soteriologi

by Redaksi
25 Oktober 2026
in Artikel Opini
0
SHARES
43
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Fr. Sebedeus Mote Pr 

Manusia dan Pengetahuan tentang Allah

Manusia diciptakan oleh Tuhan menurut gambar Allah ( Bdk Kej 1:27), sehingga mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan mengasihi Allah. Walaupun manusia telah berdosa, namun manusia tidaklah rusak secara total, namun masi menjadi gambar Allah, sehingga dengan akal budinya, manusia juga dapat sampai pada pengetahuan tentang keesaan Allah melalui ciptaan, seperti yang juga ditegaskan dalam PL “Sebab orang dapat mengenal Khalik dengan membanding-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya.” (Bdk Keb 13:5) dan PB “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” ( Bdk Rm 1:20).

Thomas Aquinas menggabungkan pemikiran Aristoteles dengan Wahyu Kristen. Kebenaran iman dan rasa pengalaman bukan hanya cocok, namun juga saling melengkapi. Beberapa kebenaran, seperti misteri dan inkarnasi dapat diketahui melalui wahyu, sebagaimana pengetahuan dari susunan benda-benda di dunia, dapan diketahui melalui rasa pengalaman; seperti kesadaran manusia akan eksistensi Allah, baik wahyu maupun rasa pengalaman dipakai untuk membentuk persepsi tentang adanya Allah. Thomas Aquinas terkenal dengan lima jalan (dalam Bahasa Latin; quinque viae ad deum) untuk mengetahui bahwa Allah benar-benar ada.

Jalan 1 adalah gerak, bahwa segala sesuatu bergerak, setiap gerakan pasti ada yang menggerakkan, namun pasti ada sesuatu yang menggerakkan sesuatu yang lain, namun tidak digerakkan oleh sesuatu yang lain, Dialah Allah. Jalan 2 adalah sebab akibat, bahwa setiap akibat mempunyai sebabnya, namun ada penyebab yang tidak diakibatkan, Dialah sebab pertaman, Allah. Jalan 3 adalah keniscayaan, bahwa di dunia ini ada hal-hal yang bisa ada dan ada yang bisa tidak ada (contohnya adalah benda-benda yang dahulu ada ternyata ada yang musnah, namun ada juga yang dulu tidak ada ternyata sekarang ada), namun ada yang selalu ada (niscaya) Dialah Allah. Jalan 4 adalah pembuktian berdasarkan derajat atau gradus melalui perbandingan, bahwa dari sifat-sifat yang ada di dunia ( yang baik-baik) ternyata ada yang paling baik yang tidak ada tandingannya (sifat Allah yang serba maha) Dialah Allah. Jalan 5 adalah penyelenggaraan, bahwa segala ciptaan berakal budi mempunyai tujuan yang terarah menuju yang terbaik, semua itu pastilah ada yang mengaturnya, Dialah Allah.

Manusia, Dunia, dan Rahmat Allah

Santo Agustinus percaya bahwa Allah ada dengan melihat sejarah dari drama penciptaan, yang melibatkan Allah dan manusia. Allah menciptakan daratan untuk manusia, menciptakan manusia (Adam) yang berdosa melawan Allah. Lalu Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden. Kemudian setelah manusia berkembang, mereka berdosa lebih lagi dan dihukum dengan air bah dalam sejarah Nuh. Orang-orang Yahudi yang diberikan perjanjian Allah ternyata tidak dapat memeliharanya sehingga dihukum melalui bangsa-bangsa lain. Lalu Allah yang maha kasih menebus manusia melalui Yesus Kristus. Dari sejarah ini Allah dapat selalu ada di tengah-tengah manusia.

Memang Agustinus adalah Bapa gareja, Uskup dari Hippo yang membela eksistensi Allah dari pandangan-pandangan lain yang ingin meruntuhkan paham teisme. Tuhan didefinisikan dari sifat-sifatnya; maha tahu, maha hadir, kekal, pencipta segala sesuatu. Namun lebih lagi, Tuhan bukan ada begitu saja, namun selalu terhubung dalam peristiwa-peristiwa besar manusia. Dunia dan hidup manusia menurut Thomas terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati).“Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat”. Thomas mengajarkan bahwa pada mulanya manusia memunyai hidup kodrati yang sempurna dan diberi rahmat Allah.

Dosa dan Kebutuhan akan Rahmat

Menurut Niko Syukur Dister, dalam terang Kristus dosa dipahami sebagai keterpisahan radikal dari Allah yang hanya dapat dipulihkan oleh rahmat ilahi. Dosa melampaui kesalahan moral; ia adalah situasi keterasingan ontologis. Yesus sendiri menegaskan bahwa dosa berasal dari hati manusia (Bdk Mrk 7:21-23). Dengan demikian, pembaruan yang dibutuhkan bukan hanya reformasi eksternal, melainkan transformasi batin. Maka disini mau menekankan bahwa perlunya perubahan hati yang bersumber dari Allah sendiri. Dalam kerangkah berpikir St. Agustinus terutama dalam perdebatan dengan Plagius ia menekankan rahmat yang efektif menghasilkan pertobatan.

Lebih jauh Menurut Thomas Aquinas adalah ketika manusia jatuh ke dalam dosa, rahmat Allah (rahmat adikodrati) itu hilang dan tabiat kodrati manusia menjadi kurang sempurna. Manusia tidak dapat lagi memenuhi hukum kasih tanpa bantuan rahmat adikodrati. Rahmat adikodrati itu ditawarkan kepada manusia lewat gereja. Dengan bantuan rahmat adikodrati itu manusia dikuatkan untuk mengerjakan keselamatannya dan memungkinkan manusia dimenangkan oleh Kristus.

Sakramen sebagai Jalan Keselamatan

Sakramen berasal dari kata ‘mysterion’ (Yunani), yang dijabarkan dengan kata ‘mysterium’ dan ‘sacramentum’ (Latin). Sacramentum dipakai untuk menjelaskan tanda yang kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan yang disebut sebagai ‘mysterium‘. Kitab Suci menyampaikan dasar pengertian sakramen sebagai misteri/ ‘mysterium‘ kasih Allah, yang diterjemahkan sebagai “rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad… tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya” (Bdk Kol 1: 26, Rom 16:25). Rahasia atau ‘misteri’ keselamatan ini tak lain dan tak bukan adalah Kristus (Bdk Kol 2:2; 4:3; Ef 3:3) yang hadir di tengah-tengah kita (Bdk Kol 1:27). Katekismus mengutip perkataan St. Leo Agung mengajarkan, “apa yang tampak pada Penebus kita, sudah dialihkan ke dalam misteri-misteri-Nya” sakramen-sakramen-Nya.

Jadi sakramen-sakramen Gereja merupakan tanda yang kelihatan dari rahasia atau misteri Kristus yang tak kelihatan- yang bekerja di dalam Gereja-Nya oleh kuasa Roh Kudus. Betapa nyatanya ‘rahasia’ ini diungkapkan di dalam sakramen-sakramen Gereja, terutama di dalam Ekaristi.Mengacu pada pengertian ini, maka Gereja sendiri adalah “Sakramen Keselamatan” yang menjadi tanda rahmat Allah dan sarana yang mempersatukan Allah dan manusia. Sebagaimana Yesus yang mengambil rupa manusia menjadi “Sakramen” dari Allah sendiri, maka Gereja sebagai Tubuh Kristus menjadi “Sakramen” Kristus. Artinya, di dalam Gereja, kuasa ilahi yang membawa kita kepada keselamatan bekerja melalui tanda yang kelihatan.

Di dalam perannya sebagai “Sakramen Keselamatan” inilah, Gereja dipercaya oleh Kristus untuk membagikan rahmat Tuhan di dalam ketujuh sakramen. Jadi sakramen tidaklah hanya sebagai tanda atau lambang, tetapi juga sebagai pemenuhan makna dari tanda itu sendiri, yaitu rahmat pengudusan untuk keselamatan kita sehingga Gereja mengajarkan bahwa dengan mengambil bagian di dalam sakramen, kita diselamatkan, karena melalui Kristus, kita dipersatukan dengan Allah sendiri. Sejak gereja pertama, umat kristen telah mengaku ketritunggalan Allah, dan Yesus adalah Tuhan dan Kristus sebagai jalan keselamatan yang membebaskan mereka dari dosa, ini pertama menghadapi pertentangan dari orang-orang Yahudi yang menekankan keselamatan melalui Taurat dan amal baik.

Baca Juga:

Gedung Gereja Paroki Idakebo Diresmikan, Bupati Tebai: Infrastruktur Rohani Penjaga Kedamaian

Orang Muda Katolik Tulang Punggung Gereja, KYD Jadi Sarana Pembinaan Berkelanjutan

Bangun Karakter Kuat, KYD 2026 Tekankan Nilai Kedamaian dan Keutuhan

Komisi Kepemudaan: Datang ke Kamapi Youth Day, Pulang Harus Bawa “Hasil”

Pada abad ke IV, Pelagius mengajarkan Pelagianisme yang menekankan bahwa manusia memiliki kehendak bebas dan tidak dipengaruhi oleh dosa dan manusia bisa menerima atau menolak jalan keselamatan Allah. Pandangan Pelegianisme ditolak oleh Agustinus yang menekankan bahwa manusia tidak mungkin menyelamatkan dirinya sendiri karena sudah terikat oleh dosa dan membutuhkan anugerah Allah untuk menyelamatkan orang-orang yang sudah ditentukan. Pandangan Pelagianisme dalam bentuk yang lebih moderat diteruskan oleh Gereja Katolik yang mengikuti pandangan Thomas Aquinas beranggapan bahwa dalam kejatuhan dalam dosa, manusia tidak sepenuhnya jatuh karena inteleknya masih selamat, karena itu dengan usaha hikmat intelektualnya manusia masih bisa menyelamatkan diri melalui gereja dan sakramen (disebut semi-pelagian).

Mengenai sakramen, ia berpendapat bahwa terdapat tujuh sakramen yang diperintahkan oleh Kristus, dan sakramen yang terpenting adalah Ekaristi (sacramentum sacramentorum). Rahmat adikodrati itu disalurkan kepada orang percaya lewat sakramen. Dengan menerima sakramen, orang mulai berjalan menuju kepada suatu kehidupan yang baru dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang menjadikan ia berkenan kepada Allah. Dengan demikian, rahmat adikodrati sangat penting karena manusia tidak bisa berbuat apa-apa yang baik tanpa rahmat yang dikaruniakan oleh Allah.

Prinsip ‘tubuh dan jiwa’ ini yang mendasari adanya sakramen di dalam Gereja. Gereja yang dijiwai oleh Roh Kristus, juga terdiri dari ‘Tubuh’ yang kelihatan, yaitu umat yang dipimpin oleh para pemimpin Gereja. Selanjutnya, rahmat Tuhan yang dicurahkan di dalam Gereja dapat juga dirasakan secara jasmani di dalam sakramen-sakramen. Karenanya Gereja mempunyai aspek Ilahi dan manusiawi, rohani dan jasmani, yang tak kelihatan dan yang kelihatan, dan semuanya itu dipersatukan di dalam misteri Kristus. Di dalam Kristuslah segala sesuatu diperdamaikan, dipersatukan dan disempurnakan (Bdk Kol 1:19-22).

Maka itu Allah tidak mungkin merendahkan tubuh, namun menyempurnakan dan memuliakannya untuk dipersatukan dengan jiwa, sebab Ia-lah yang menjadikan keduanya pada awal mula penciptaan dengan sangat baik adanya ( Bdk Kej 1:31). “Rahmat tidak menghancurkan segala yang bersifat material atau lahiriah, melainkan menyempurnakannya,” Menurut  St. Thomas Aquinas, walaupun dosa memang telah ‘mencemari’ tubuh, namun tidak menjadikannya sama sekali tidak bernilai, karena kuasa dosa tidak mungkin lebih besar dari kuasa Allah. Allah mencurahkan rahmat-Nya untuk mengembalikan tubuh kepada keadaan asalnya. Karena itu, sudah menjadi kehendak Allah bahwa segala rahmat ilahi dapat dialami dan dirasakan oleh tubuh, supaya oleh rahmat-Nya kita dipulihkan dari akibat dosa, dan tubuh kita ‘diangkat’ sehingga bernilai ilahi. Walaupun rahmat Allah itu pertama-tama bersifat rohani, namun rahmat itu tidak mengabaikan segala yang bersifat lahiriah. Jangan kita lupa, Allah adalah Tuhan atas segala sesuatu dan adalah hak Tuhan untuk menyampaikan rahmatNya melalui perantaraan benda-benda ciptaanNya untuk menyembuhkan, menguduskan dan membentuk kita menjadi tempat kediaman dan Bait Kudus-Nya ( Bdk 1 Kor 3:16).

Kristus, Rahmat, dan Keselamatan Manusia

Janganlah kita lupa, bahwa karena akibat dosa asal, terdapat jurang yang tak terpisahkan antara Tuhan Pencipta dan manusia yang diciptakanNya. Kita manusia hanya dapat ‘terangkat’ dari jurang melalui jasa Kristus Penyelamat kita. Jasa Kristus itu secara nyata kita peroleh lewat sakramen-sakramen, yang memang disediakan Tuhan untuk mengangkat kita agar dapat mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi seperti yang menjadi rencana-Nya sejak semula. Maka jika Tuhan menghendaki agar kita hidup kudus, dan bertumbuh dalam kasih, hal itu bukannya ‘asal perintah’ saja, sebab, Tuhan sendiri menyediakan jalan untuk menuju ke sana.

Allah mengetahui bahwa dengan mengandalkan kemampuan sendiri, kita tidak akan dapat menjadi kudus dan memiliki kasih sejati. Oleh karena itu, Ia memberikan rahmat-Nya, melalui sakramen-sakramen, sebagai suatu tanda sederhana yang dapat kita rasakan melalui tubuh kita, namun menghasilkan efek luar biasa di dalam jiwa kita. Kita dibentuk oleh Allah untuk menjadi bagian dari Diri-Nya sendiri. Diberikan-Nya pada kita kehidupan Ilahi-Nya, supaya kita dapat bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih. Oleh rahmat ini kita dapat menjalin persahabatan dengan Tuhan, dan sedikit demi sedikit, kita juga ikut dan bertumbuh sebagai gambaran Allah sendiri.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dister, Niko Syukur. 2004. Teologi Sistematika II. Yogyakarta: Kanisius.

Groenen, C. 1992. Soteriologi Alkitabiah: Keselamatan yang Diberitakan Alkitab. Yogyakarta: Kanisius.

Katekismus Gereja Katolik. 1995. Ende: Nusa Indah.

Konsili Vatikan II. 1993. Dei Verbum: Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Konsili Vatikan II. 1993. Lumen Gentium: Konstitusi Dogmatis tentang Gereja. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Lembaga Alkitab Indonesia. 2019. Jakarta.

Magis-Suseno, Franz. 2010. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Ohoitimur, Johanis. 2006. Metafisika sebagai Hermeneutika. Jakarta: Obor.

Views: 201
Tags: Calon Imam ProjoKeuskupan TimikaPerspektif SoteriologiSTFT Fajar Timur
Previous Post

Luka Fisik Bisa Sembuh, Bagaimana dengan Psikis?

Next Post

TPNPB-OPM Laporkan Pergerakan TNI di Paniai, Sampaikan Peringatan

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Artikel Opini

Distrack for Hip-hop Merauke “pesta Babi”

2 bulan ago
Artikel Opini

Mama Yasinta Moiwend: di Antara Propaganda, Manipulasi, dan Pencarian Kebenaran

5 bulan ago
Artikel Opini

OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

5 bulan ago
Artikel Opini

Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

5 bulan ago
Artikel Opini

Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

6 bulan ago
Artikel Opini

Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

7 bulan ago
Next Post

TPNPB-OPM Laporkan Pergerakan TNI di Paniai, Sampaikan Peringatan

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved