PANIAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Narasumber Training Tutor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Paniai, Jeni Karay, S.I.Kom., M.Kom., Certified Training Public Speaking BNSP-RI, memberikan materi tentang “Menjadi Orator Muda Paniai yang Berkarakter dan Berpengaruh” dalam kegiatan Training Tutor yang berlangsung di Aula Setda Kantor Bupati Paniai, Jalan Raya Madi, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, Kamis (18/06/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Jeni Karay membekali para peserta dengan berbagai teknik dasar dan strategi komunikasi publik yang efektif untuk membangun kepercayaan diri, meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum, serta menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Menurut Jeni Karay, rasa gugup merupakan hal yang wajar dialami oleh setiap pembicara, terutama saat tampil di hadapan banyak orang. Namun, rasa gugup dapat dikelola dengan beberapa teknik sederhana.
“Trik mengatasi gugup dapat dilakukan melalui pernapasan perut, visualisasi positif, dan memahami bahwa jeda itu emas. Ketika berbicara, jangan takut untuk berhenti sejenak karena jeda dapat membantu pembicara mengatur pikiran dan memberi ruang bagi audiens untuk memahami pesan yang disampaikan,” ujarnya.

Selain itu, Jeni menekankan pentingnya bahasa tubuh sebagai bagian dari komunikasi nonverbal yang mampu memperkuat pesan yang disampaikan seorang orator.
“Bahasa tubuh merupakan komunikasi nonverbal yang sangat menentukan keberhasilan seorang pembicara. Sering kali audiens lebih dahulu memperhatikan sikap dan gerakan kita sebelum mendengarkan isi pembicaraan,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan beberapa elemen penting bahasa tubuh yang perlu diperhatikan oleh seorang orator, yakni kontak mata, ekspresi wajah, gestur tangan, dan postur tubuh.
Menurutnya, kontak mata yang baik dapat membangun hubungan emosional dengan audiens, sementara ekspresi wajah yang sesuai akan memperkuat makna pesan yang disampaikan. Gestur tangan yang alami dapat membantu menegaskan poin-poin penting, sedangkan postur tubuh yang tegap menunjukkan rasa percaya diri dan kesiapan seorang pembicara.

Lebih lanjut, Jeni juga membahas tentang pentingnya penguasaan panggung dalam berbicara di depan umum. Ia mengajak peserta untuk menjadikan panggung sebagai ruang yang nyaman sehingga mampu membangun koneksi yang kuat dengan audiens.
“Jadikan panggung sebagai wilayah Anda. Menguasai panggung bukan hanya berdiri di depan banyak orang, tetapi membangun rasa aman, arah, dan koneksi dengan audiens,” katanya.

Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan pemahaman mengenai dinamika ruang dan interaksi dengan audiens. Materi tersebut mencakup pergerakan yang bermakna saat berbicara, kemampuan membaca respons audiens, serta penggunaan vokal dan intonasi yang tepat agar pesan dapat tersampaikan secara efektif.
Menurut, Dosen Universitas Ottow Geisler ini juga mengatakan seorang orator yang baik harus mampu menyesuaikan gaya penyampaian dengan situasi dan karakter audiens sehingga komunikasi yang dibangun menjadi lebih hidup dan berdampak.
Di akhir sesi, Jeni memberikan motivasi kepada para peserta agar terus mengembangkan kemampuan berbicara sebagai sarana menginspirasi dan membawa perubahan positif bagi masyarakat.
“Waktunya menginspirasi. Kata-kata yang diucapkan dengan tulus dan penuh keyakinan dari seorang pemuda dapat menjadi kekuatan besar untuk menggerakkan perubahan. Jadilah orator muda Paniai yang membawa perubahan,” tutupnya.