NABIRE, JELATANEWSPAPUA.COM – Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, menyampaikan kekecewaannya terhadap penyelenggaraan Festival Kopi Papua Tengah yang dinilai belum mencerminkan standar kegiatan tingkat provinsi.
Hal itu disampaikan Bupati melalui keterangan tertulis kepada wartawan, pada (22/11).
“Saya harus bicara jujur. Saya kecewa melihat Festival Kopi yang membawa nama Provinsi, namun pelaksanaannya terkesan seperti kegiatan tingkat distrik,” ujar Bupati Tebai.
Ia menyoroti besaran hadiah juara yang dinilai belum memuliakan para petani kopi.
“Lebih menyedihkan lagi, Juara III hanya mendapatkan Rp 3 juta. Dimana kita taruh harga diri petani kopi kita? Dimana standar festival tingkat provinsi?” tegasnya.
Bupati menegaskan, kopi bukan sekedar tanaman, melainkan hasil keringat para petani yang harus dihargai dengan layak.
“Kopi itu bukan tanaman liar. Kopi itu keringat petani. Kopi itu harusnya menjadi kekuatan ekonomi Papua Tengah,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Bupati Tebai meminta agar penyelenggaraan festival tingkat provinsi ke depan disiapkan dengan lebih profesional dan berkelas.
“Kalau ingin menyelenggarakan festival tingkat provinsi, buatlah yang berkelas. Konsepnya harus profesional, panggungnya harus layak, dan hadiahnya harus memuliakan petani,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak hanya memakai nama besar “Provinsi” tanpa dibarisi kualitas yang memadai.
“Jangan hanya meminjam nama besar, tetapi isinya tidak mencerminkan kelas provinsi. Ingat, kita tidak hidup di zaman batu. Petani kita sudah bekerja keras dari kebun hingga kopi siap dipasarkan. Hargailah mereka dengan penghargaan yang layak,” pesannya.
Tebai berharap pihak yang diberi tanggung jawab menyelenggarakan kegiatan atas nama provinsi dapat bekerja dengan standar yang seharusnya.
“Kalau diberi tanggung jawab atas nama provinsi, kerjakanlah dengan standar provinsi. Jangan dikerjakan secara asal-asalan. Petani kopi adalah kebanggaan kita,” tutupnya.[]