DOGIYAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Pemerintah Kabupaten Dogiyai, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, berencana meluncurkan sayembara desain batik sebagai upaya menciptakan motif khas Kabupaten Dogiyai, pertama bagi kabupaten tersebut. Inisiatif ini bertujuan untuk membangun identitas budaya yang kuat dan mempromosikan warisan lokal, sejalan dengan visi-misi pimpinan daerah.
Hal tersebut diungkapkan oleh Natan Tebai Kabid Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dogiyai. Menurutnya, sejak berdiri pada tahun 2008, Kabupaten Dogiyai belum pernah memiliki batik resmi yang dapat merepresentasikan identitas daerah, baik di tingkat kabupaten maupun di lingkungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Sejak 2008 hingga 2025 ini, kami belum pernah ada pakaian batik. Oleh karena itu, dalam tahun ini kami akan menggelar sayembara,” ujar Natan Tebai kepada jelatanewspapua.com, Kamis (02/10).
Sayembara ini akan dibuka untuk umum dan mengundang seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya dari Dogiyai, tetapi juga dari kabupaten sekitar seperti Deiyai, Paniai, dan seluruh Papua untuk berpartisipasi.
“Kami mengundang semua stakeholder, baik masyarakat yang ada di Dogiyai, Deiyai, Paniai, maupun di seluruh Papua untuk berpartisipasi. Kami buka secara umum,” tambahnya.
Filosofi di balik keterbukaan ini, jelas Yonatan, sejalan dengan semangat kebersamaan yang terkandung dalam Noken. “Seperti filosofi Noken untuk semua, batik ini juga untuk semua,” tegasnya.
Inisiatif ini juga merupakan bagian dari program dinas yang lebih besar untuk membina masyarakat adat, kelompok seniman, dan mempromosikan potensi budaya daerah. Salah satu fokus utamanya adalah kampanye Noken Anggrek, yang menurut Yonatan berasal dari Dogiyai dan kini telah dikenal luas.
Untuk memastikan proses penilaian yang kredibel dan komprehensif, dewan juri sayembara akan melibatkan berbagai ahli, termasuk antropolog, seniman, tokoh pemuda, dan perwakilan dari Komunitas Budaya Bunani.
Tebai menyoroti peran penting Komunitas Budaya Bunani sebagai satu-satunya komunitas di Papua yang masih aktif melestarikan budaya leluhur, seperti tradisi Koteka Moge. Keterlibatan mereka diharapkan dapat memastikan desain yang terpilih nantinya benar-benar mengakar pada nilai-nilai budaya lokal, Dogiyai dan seluruh tanah Papua pada umumnya
“Kami sangat harapkan juri akan mengedepankan nilai-nilai independensi dan terintegrasi dengan nilai-nilai budaya, sehingga saat keputusan akhir nanti tidak mengecewakan bagi peserta,” pungkasnya.
Melalui sayembara ini, Natan berharap seluruh masyarakat dapat memberikan dukungan dan partisipasi penuh agar batik yang dihasilkan nantinya benar-benar menjadi kebanggaan dan milik seluruh masyarakat Dogiyai.
Natan menambahkan pemerintah Kabupaten Dogiyai akan diberikan hadiah pembina dan piala bagi yang meraih juara. (*)