JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM –Juru Bicara Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Victor Yeimo, menyatakan bahwa Mama Yasinta saat ini sedang mengalami apa yang ia sebut sebagai penindasan berlapis atau penindasan ganda.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada Sabtu (30/05), Victor Yeimo menilai publik tidak boleh bersikap netral atau pragmatis dengan mengatakan bahwa semua pihak harus menghormati sikap politik Mama Yasinta.
“Maka sikap kita tidak boleh netral atau pragmatis dengan berkata ‘kita harus menghormati sikap politik Mama Yasinta,’ seolah-olah kesadaran politik dalam ruang kolonial lahir dari kehendak yang benar-benar bebas,” tulis Victor Yeimo.
Menurutnya, Mama Yasinta merupakan korban yang sejak lama memahami penghancuran tanah dan hutan adat Papua. Karena itu, ia mempertanyakan kemunculan Mama Yasinta yang berulang kali ditampilkan di media untuk menyerang film dan orang-orang yang selama ini dianggap seperjuangan dengannya.
“Mama Yasinta itu korban yang sejak lama memahami penghancuran tanah dan hutan adat Papua. Jadi kalau tiba-tiba dipertontonkan berulang-ulang di media untuk menyerang film dan orang-orang seperjuangannya, yang harus jadi pertanyaan: ini benar-benar suara kesadaran bebas, atau hasil tekanan hegemoni kolonial?” ujarnya.
Victor Yeimo kemudian mengaitkan situasi tersebut dengan pemikiran Frantz Fanon mengenai kolonisasi kesadaran. Ia menyebut kolonisasi kesadaran terjadi ketika korban kolonial perlahan diarahkan untuk berbicara menggunakan logika kolonial itu sendiri.
“Kasus seperti ini kalau dalam bahasa Fanon disebut kolonisasi kesadaran: ketika korban kolonial perlahan diarahkan untuk berbicara memakai logika kolonial itu sendiri. Kolonial tidak akan merasa cukup merampas isi bumi Papua sebelum kesadaran orang Papua direbut agar perjuangan melawan kolonial kehilangan arah dari dalam,” tulisnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam kondisi demikian, pihak yang terjajah dapat menginternalisasi nilai, logika, dan cara pandang penjajah demi memperoleh rasa aman di tengah tekanan kolonial.
Lebih lanjut, Victor Yeimo menyinggung laporan keluarga yang menyebut Mama Yasinta dikondisikan dan dibawa ke Jakarta menggunakan fasilitas kekuasaan. Menurutnya, kondisi tersebut patut dibaca sebagai bagian dari operasi hegemoni modern.
“Laporan keluarga bahwa Mama Yasinta dikondisikan, dibawa dengan fasilitas kekuasaan ke Jakarta. Sekarang dijadikan wajah media untuk menyerang balik perjuangan Papua. Ini yang patut dibaca sebagai operasi hegemoni modern,” katanya.
Ia kemudian mengutip pemikiran Antonio Gramsci tentang hegemoni.
“Gramsci bilang hegemoni: ketika kekuasaan tidak lagi bekerja dengan kekerasan, tetapi dengan membentuk cara berpikir korban kolonial sampai penindasan tampak normal dan masuk akal,” tulisnya.
Selain itu, Yeimo menilai situasi tersebut dapat dipahami sebagai gejala false consciousness atau kesadaran semu.
“Yakni ketika korban kolonial perlahan menerima narasi yang justru melemahkan perjuangan historis rakyatnya sendiri akibat tekanan rasa takut, isolasi, pendekatan simbolik, tawaran ekonomi, dan operasi media yang terus-menerus,” ujarnya.
Ia juga mengkritik ajakan kepada publik untuk diam atas nama menghormati Mama Yasinta. Menurutnya, dalam kondisi demikian dapat terjadi mekanisme yang ia sebut sebagai playing victim.
“Figur masyarakat adat diposisikan sebagai korban yang tidak boleh dikritik, lalu rasa iba publik dipakai untuk mengalihkan perhatian dari struktur kolonial yang lebih besar. Kritik terhadap sistem dipelintir menjadi serangan pada individu,” tulis Victor.
Menurutnya, persoalan yang terjadi bukan sekadar perubahan sikap satu orang, melainkan berkaitan dengan apa yang disebutnya sebagai komodifikasi rasial.
“Tubuh, suara, dan luka masyarakat adat Papua dipakai sebagai alat legitimasi untuk melemahkan perjuangan rakyat Papua sendiri. Jadi pola-pola ini sedang mengulangi cara-cara Indonesia melakukan manipulasi lewat PEPERA 1969,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Victor Yeimo menegaskan bahwa kolonialisme yang paling berbahaya bukan hanya yang merampas tanah, hutan, dan sumber daya Papua, tetapi juga yang berhasil memengaruhi kesadaran masyarakat Papua.
“Memang kolonialisme paling berbahaya bukan hanya yang merampas tanah Papua, hutan, dan sebagainya, tetapi yang berhasil membuat orang Papua sendiri tanpa sadar berbicara dengan bahasa kolonial untuk menyerang perjuangan rakyat Papua sendiri,” tulisnya.