Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Susun Perubahan RAP Otsus 2026, Bappeda-BPKAD Dogiyai Hadapi Kendala Sistem dan Pemahaman Teknis  

    Kabupaten Dogiyai Raih Opini WTP Pertama Dalam Sejarah Sejak Berdiri Pada 2008

    Data Peserta Didik Sering Tidak Valid, Dinas Pendidikan Paniai Akan Terapkan Standar Ketat

    19 Siswa SD Inpres Pona Lulus, Investasi Masa Depan Dogiyai Dimulai

    Pelepasan 23 Siswa SD YPPK Mauwa, Pesan Kepala Distrik Kamu: Pendidikan Menentukan Masa Depan Dogiyai

    Victor Yeimo: Mama Yasinta Mengalami Penindasan Berlapis dan Operasi Hegemoni Modern

    Mahasiswa Paniai Se-indonesia Jakarta Gelar Pernyataan Sikap Tolak Dob, Militerisme, dan Investasi Tambang

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah: Lembaga Harus Berpihak kepada Rakyat Kecil

    Koalisi HAM Papua Kecam Pembatasan Bantuan Hukum bagi Warga Adat Malind di Merauke

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

    Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Victor Yeimo: Mama Yasinta Mengalami Penindasan Berlapis dan Operasi Hegemoni Modern

    Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua Desak Pemulangan dan Pemulihan Hak Mama Yasinta Moiwend

    SRP Adukan Kasus Dogiyai ke Komnas HAM dan Amnesty International

    Mahasiswa Paniai Se-Indonesia di Yogyakarta dan Solo Kembali Suarakan Penolakan DOB dan Tambang di Tanah Adat

    LBH Papua Desak Komnas HAM Tetapkan Dogiyai Berdarah Sebagai Dugaan Pelanggaran HAM Berat

    PK Dogiyai Kutuk Penembakan Pelajar di Dogiyai dan Pemboman Umat di Intan Jaya

    Serangan Udara di Gereja Katolik Intan Jaya Picu Korban Sipil dan Gelombang Pengungsian

    FIM-WP ancam mobilisasi besar dalam aksi Mimbar Bebas kasus Dogiyai berdarah

    Operasi Militer di Tembagapura Tewaskan 5 Warga Sipil, Ribuan Warga Dilaporkan Mengungsi

  • Kesehatan

    PAR Koordinator Aweepaida Paniai Gelar Seminar dan Pelatihan, KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi HIV-AIDS 

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

    Dogiyai Masuk Prioritas Nasional, Tim BPJS Turun ke Kamuu Selatan Aktifkan Data Warga

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

  • Lingkungan

    Pemuda Kingmi Klasis Bogobaida Rayon Nabire Bergerak Galang Dana untuk Ret-Treat Akbar

    Porter Yonii Paniai Ajak Sopir dan Petugas Terminal Jaga Kekompakan di Karel Gobai Enarotali

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

    HP-SP Paniai Gelar Diskusi Panel Kenakalan Remaja, Despia Yeimo Ajak Pelajar Bangun Masa Depan

    HP-SP Paniai Bentuk Panitia Musyawarah dan Seminar, Dorong Penguatan Literasi Generasi Muda

    IPPMMARPUT Se-Jayapura gelar pelantikan Badan Formatur tahun 2026, begini pesan senior

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah tegaskan Ormas harus bekerja nyata untuk rakyat

    MUSORMA XVIII AMPPJ Jayapura 2026 resmi digelar

    Kelompok Uti Waita, binaan Tani Merdeka Papua Tengah gelar panen raya Padi di Nabire

  • Pendidikan

    TK PAUD St. Fransiskus Asisi Epouto Tamatkan 41 Siswa Angkatan XIII Tahun 2026

    Mahasiswa PPL STAK Nabire Sampaikan Terima Kasih kepada TK Negeri Waikato Paapaa Usai Menyelesaikan Praktik Lapangan

    TK YPPK St. Aquinas Enarotali Lepas 28 Siswa dalam Acara Penamatan Tahun Ajaran 2025/2026

    TK Negeri Bomaiye Pito Wisudakan 19 Siswa, Dinas Pendidikan Paniai Apresiasi Komitmen Sekolah

    Wisuda TK YPPGY Eklesia Enarotali, 23 Siswa Resmi Dilepas ke Jenjang Pendidikan Dasar, Begini Pesan Kabid TK-Paud

    TK Galilea Enaimo Lepas 30 Siswa, Dinas Pendidikan Paniai Apresiasi Dedikasi Guru dan Orang Tua

    Data Peserta Didik Sering Tidak Valid, Dinas Pendidikan Paniai Akan Terapkan Standar Ketat

    19 Siswa SD Inpres Pona Lulus, Investasi Masa Depan Dogiyai Dimulai

    Pelepasan 23 Siswa SD YPPK Mauwa, Pesan Kepala Distrik Kamu: Pendidikan Menentukan Masa Depan Dogiyai

  • Religi

    Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

    Anggota MRP PPT Gelar RDP, Tokoh Agama Soroti Dana Otsus hingga Isu Keamanan

    Kerawam Keuskupan Timika Konsolidasi di Nabire, Dukung Agenda Keuskupan Timika di Paniai

    Klasis Agadide rayakan HUT ke-64 KINGMI, Jemaat didorong hidup dalam damai Kristus

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Politik

SETARA Tegaskan Papua Sedang Hadapi Kolonialisme Modern, Desak Hak Penentuan Nasib Sendiri

by Derek Kobepa
29 Mei 2026
in Politik
0
SHARES
30
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Aliansi Selamatkan Tanah Air (SETARA) Papua secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap politik terkait situasi Tanah Papua yang dinilai semakin mengkhawatirkan akibat ekspansi investasi, militerisasi, eksploitasi sumber daya alam, serta berbagai proyek negara yang dianggap mengatasnamakan pembangunan namun justru meminggirkan rakyat asli Papua dari tanah dan ruang hidup mereka sendiri.

Pernyataan sikap tersebut disampaikan di Abe Lingkaran, Jayapura, Papua,  Kamis (29/5/2025), dan ditandatangani langsung oleh Ketua/Penanggung Jawab SETARA, Stenli Dambujay, bersama Koordinator Lapangan, Lovivi.

Dalam keterangannya kepada media, Stenli Dambujay menegaskan bahwa kondisi yang sedang terjadi di Papua saat ini bukan lagi sekadar persoalan pembangunan, melainkan bentuk kolonialisme modern yang terus berlangsung melalui pendekatan militer, eksploitasi sumber daya alam, dan dominasi politik negara terhadap rakyat Papua.

“Papua hari ini sedang menghadapi situasi yang sangat genting. Di tengah masifnya investasi, militerisasi, eksploitasi sumber daya alam, serta proyek-proyek negara yang mengatasnamakan pembangunan, rakyat Papua justru terus mengalami marginalisasi, perampasan tanah adat, intimidasi politik, pelanggaran HAM, dan penghancuran identitas sosial budaya,” tegas Stenli Dambujay.

Menurutnya, film dokumenter *Pesta Babi* telah membuka mata publik mengenai realitas yang selama ini dialami rakyat Papua. Film tersebut dinilai memperlihatkan bagaimana kolonialisme modern bekerja secara sistematis di Tanah Papua melalui penggusuran tanah adat, masuknya aparat militer untuk mengawal investasi berskala besar, penghancuran hutan, hingga pembungkaman ruang demokrasi.

“Film itu bukan hanya karya seni, tetapi cermin dari kenyataan yang dialami rakyat Papua selama puluhan tahun. Ada penghancuran ruang hidup, ada intimidasi terhadap masyarakat adat, dan ada eksploitasi besar-besaran atas tanah Papua,” ujar Stenli.

SETARA menilai bahwa proyek-proyek seperti perkebunan tebu, sawit, food estate, pertambangan, serta Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke dan sejumlah wilayah lain di Papua telah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan masyarakat adat Papua.

Bagi masyarakat Papua, lanjut Stenli Dambujay, hutan bukan hanya sekadar sumber ekonomi, tetapi merupakan ruang spiritual, tempat leluhur berdiam, sumber identitas budaya, dan bagian penting dari kehidupan generasi masa depan.

“Ketika hutan dihancurkan demi investasi dan proyek negara, maka yang dihancurkan bukan hanya pohon dan tanah, tetapi sejarah, budaya, serta masa depan rakyat Papua,” katanya.

SETARA juga menyoroti sejarah panjang kolonialisme di Papua yang disebut telah berlangsung sejak operasi militer pasca Trikora tahun 1961 hingga integrasi Papua ke dalam Indonesia yang sampai hari ini masih dipersoalkan oleh sebagian besar rakyat Papua.

Menurut mereka, pendekatan keamanan melalui militerisasi, operasi militer, transmigrasi, eksploitasi ekonomi, dan sentralisasi kekuasaan telah menjadi instrumen negara dalam mempertahankan kontrol atas Papua yang kaya sumber daya alam.

“Dalam praktiknya, kolonialisme modern di Papua dijalankan melalui aliansi negara, militer, oligarki politik, elit lokal, serta korporasi nasional maupun internasional. Papua dijadikan ladang eksploitasi ekonomi, sementara rakyat asli Papua terus dimarginalkan di tanah sendiri,” lanjut Stenli.

SETARA memandang bahwa persoalan Papua bukan sekadar persoalan pembangunan yang salah arah, melainkan persoalan kolonisasi, pendudukan politik, dan eksploitasi sumber daya alam yang berlangsung secara sistematis.

Karena itu, SETARA menilai perjuangan rakyat Papua tidak dapat dipisahkan dari perjuangan melawan kolonialisme, imperialisme, militerisme, kapitalisme ekstraktif, dan segala bentuk penindasan terhadap manusia maupun alam Papua.

Selain itu, SETARA juga menyerukan pentingnya konsolidasi politik rakyat Papua yang lebih kuat dan berakar pada rakyat kecil. Gerakan perjuangan Papua dinilai tidak boleh berhenti pada simbolisme dan retorika elit semata, tetapi harus membangun organisasi rakyat yang demokratis, progresif, dan mampu menyatukan seluruh kekuatan sosial rakyat Papua.

Baca Juga:

Mahasiswa Paniai Se-indonesia Jakarta Gelar Pernyataan Sikap Tolak Dob, Militerisme, dan Investasi Tambang

SM-PI Kota Studi Gorontalo Tegaskan Penolakan DOB, Militerisme dan Eksploitasi Tambang di Paniai 

Tolak Eksploitasi: Mahasiswa Paniai Desak Cabut DOB dan Tambang 

Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

Dalam pernyataannya, SETARA menegaskan bahwa Hak Menentukan Nasib Sendiri (HMNS) merupakan jalan demokratis untuk mengakhiri kolonialisme di Papua.

“Rakyat Papua berhak menentukan masa depannya sendiri secara bebas, demokratis, dan bermartabat tanpa intimidasi, tanpa moncong senjata, dan tanpa paksaan politik dari kekuatan kolonial mana pun,” tegas Stenli Dambujay.

SETARA juga mengajak rakyat Indonesia agar melihat persoalan Papua bukan semata dari propaganda negara, tetapi dari kenyataan penderitaan rakyat Papua sendiri.

Selain itu, mereka menyerukan solidaritas internasional dari organisasi HAM, komunitas akademik, gereja, gerakan lingkungan, dan gerakan anti-kolonialisme dunia agar mendukung perjuangan rakyat Papua.

Menurut SETARA, dunia internasional perlu melihat bahwa yang sedang terjadi di Papua bukan hanya krisis HAM, tetapi juga ancaman ekosida, penghancuran masyarakat adat, dan pembungkaman demokrasi.

Dalam pernyataan sikap tersebut, SETARA menyampaikan 21 poin tuntutan sebagai berikut:

  1. Tolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke dan di seluruh tanah Papua yang merampas tanah adat serta menghancurkan ruang hidup rakyat Papua dan Mendukung penuh perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan tanah, hutan, sungai, beserta ruang hidupnya dari segala bentuk monster investasi dan eksploitasi.
  2. Tutup Freeport, BP, LNG Tanguh dan seluruh Perusahaan raksasa lainnya sebagai simbol eksploitasi sumber daya alam dan actor kolonisasi atas Tanah Papua.
  3. Segerah Cabut kebijakan Otonomi Khusus di Tanah Papua yang terbukti telah gagal, kacau balau dan menjadi pintu masuk kehancuran bagi rakyat bangsa Papua.
  4. Menolak program Koperasi Merah Putih dari Pemerintah Kolonial Indonesia yang dijalankan tanpa partisipasi rakyat Papua.
  5. Menolak segala upaya pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Tanah Papua karena berpotensi mengancam eksistensi maupun ruang hidup, dan berpotensi memarginalkan rakyat bangsa Papua di tanah sendiri.
  6. Menolak segala bentuk program transmigrasi, transmigrasi patriot dan sejenisnya di Tanah Papua karena berpotensi menghemoni, mengkolonisasi dan memarginalkan rakyat bangsa Papua di tanah sendiri.
  7. Menolak program transmigrasi yang akan mempercepat marginalisasi orang asli Papua di tanah sendiri.
  8. Tarik (TNI-Polri) Organik dan Non-Organik dari seluruh tanah Papua.
  9. Tarik Militer kambali ke barak.
  10. Hentikan seluruh operasi militer dan pendekatan militeristik di Tanah Papua.
  11. Menolak rencana pembangunan Kepolisian Daerah (POLDA) dan Komando Daerah Militer (KODAM) baru beserta Batalyon Infantri Teritorial Pembangunan di Tanah Papua.
  12. Menolak pembangunan dar perluasan Dermaga Satrol TNI-AL di sekitar area pelabuhan lautJayapura karena berpotensi mensabotase area pantai milik Gereja GKI Pengharapan, Kota Jayapura.
  13. Menolak proyek pembangunan Bandara Antariksa di Pulau Biak (Papua) dan Pembangunan Infanteri Teritorial Pembangunan 858 karena berpotensi mengancam ruang hidup masyarakat adat dan lingkungan hidup.
  14. Mendesak pemberhentian perang antara TNI/Polri dan TPNPB di wilayah pemukiman masyarakat sipil, terutama pada area-area pengungsian akibat konflik bersenjata.
  15. Hentikan teror, intimidasi, kriminalisasi, dan represi terhadap aktivis HAM, aktivis lingkungan, jurnalis, mahasiswa, dan aktivis politik Papua.
  16. Hentikan impunitas terhadap pelaku pelanggaran HAM di Papua.
  17. Meminta pengusutan seluruh kasus pelanggaran HAM berat di Tanah Papua secara adil dan transparan.
  18. Mendesak penghentian segala bentuk kekerasan terhadap perempuan Papua dan anak, serta perlunya perlindungan terhadap hak-hak perempuan dan anak, termasuk bagi warga pengungsi di wilayah konflik di Tanah Papua.
  19. Bebaskan seluruh tahanan politik Papua Barat tanpa syarat.
  20. Mendesak perlu dibukanya akses seluas-fuasnya bagi jurnalis internasional, pegiat HAM internasional dan Dewan HAM PBB untuk bekerja dan melakukan investigasi independen terhadap situasi pelanggaran HAM di Tanah Papua.
  21. Berikan Hak penentuan Nasib sendiri bagi rakyat Papua sebagai Solusi Demokratis guna mengakhiri kolonialisme dan penindasan di Papua Barat yang sudah berlangsung selama lebuh dari 60 tahun.

Di akhir pernyataannya, SETARA menegaskan bahwa perjuangan rakyat Papua merupakan perjuangan kemanusiaan yang harus mendapat dukungan luas dari masyarakat dunia.

“Ketika tanah dirampas, hutan dihancurkan, budaya dimusnahkan, dan rakyat dibungkam dengan kekuatan senjata, maka yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan Papua, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan,” tutup Stenli Dambujay.

SETARA juga menyerukan persatuan rakyat Papua, rakyat Indonesia, dan solidaritas internasional untuk bersama-sama melawan kolonialisme, militerisme, eksploitasi sumber daya alam, dan segala bentuk penindasan terhadap rakyat Papua.

“Papua bukan tanah kosong. Papua adalah tanah kehidupan, tanah leluhur, dan tanah harapan bagi generasi masa depan,” demikian tutup pernyataan sikap SETARA. (*)

Post Views: 405
Tags: Aliansi Selamatkan Tanah AirHak PolitikHak SipilMiliterismeSETARA PapuaTolak DOBTolak Perusahaan
Previous Post

TK Negeri Waikato Paapaa Aikai Gelar Rapat Kelas Orang Tua di Akhir Semester Bahas Pendidikan Anak Usia Dini

Next Post

Mahasiswa Paniai Se-indonesia Jakarta Gelar Pernyataan Sikap Tolak Dob, Militerisme, dan Investasi Tambang

Derek Kobepa

Derek Kobepa

BERITA TERKAIT

Politik

KNPB Nabire Gelar Nobar Film “Pesta Babi” Bersama Masyarakat Wanggar, Tampung Aspirasi untuk Aksi Nasional

2 hari ago
Politik

SM-PI Kota Studi Gorontalo Tegaskan Penolakan DOB, Militerisme dan Eksploitasi Tambang di Paniai 

2 minggu ago
Politik

KNPB Intan Jaya Desak Pemerintah Indonesia Buka Akses Dewan HAM PBB Selidiki Dugaan Serangan Bom di Gereja Katolik Mbamogo

2 minggu ago
Politik

NGR Desak Dewan Keamanan PBB Intervensi Darurat Kemanusiaan dan Akhiri Pendudukan Indonesia di Papua Barat

2 minggu ago
Papua

BEM UNIPA kecam pernyataan Ketua KNPI Papua Tengah terkait pembungkaman kebebasan berpendapat

3 minggu ago
Politik

METAB Paniai Gelar Nobar Film Dokumenter Pesta Babi, Angkat Isu Kolonialisme, Krisis HAM dan Perampasan Ruang Hidup Orang Asli Papua

4 minggu ago
Next Post

Mahasiswa Paniai Se-indonesia Jakarta Gelar Pernyataan Sikap Tolak Dob, Militerisme, dan Investasi Tambang

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved