Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    KPK Tahan Tersangka Dugaan Korupsi Terkait Kepabeanan di Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu

    Tiga Kampung di Distrik Kamuu Raih Penghargaan dalam Lomba Antar‑Kampung Kabupaten Dogiyai

    KNPB Sentani Serukan Konsolidasi dan Aksi Nasional 15 Agustus 2026 di Tanah Tabi Papua

    Bupati Dogiyai Buka Monev Dana Otsus dan DAK 2026

    Juru Parkir Diduga Curi Noken Penjual di Depan Supermarket Hadi Biak

    Abni Auwe Terima SK DPC PBB Dogiyai, Siap Penuhi Syarat Verifikasi Pemilu 2029

    KNPB Nabire Serahkan Surat Pemberitahuan Aksi Nasional kepada Polres Nabire dan MRP Papua Tengah

    Panitia Mubes II Fajar Timur Resmi Dibentuk, Siap Satukan Seluruh Elemen Masyarakat Adat

    DPW dan DPD Tani Merdeka Papua Tengah Dukung Don Muzakir Jadi Wakil Menteri Pertanian

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Mama Yasinta Moiwend: di Antara Propaganda, Manipulasi, dan Pencarian Kebenaran

    OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Maybrat Berdarah Jelang 17 Agustus: YKKMP Negara Buka Fakta Minta Tiga Warga Sipil Terluka

    Juru Parkir Diduga Curi Noken Penjual di Depan Supermarket Hadi Biak

    IPMI-J Jayapura Dukung Aksi GPMI di Nabire, Desak DPR Papua Tengah Segera Tindaklanjuti Aspirasi Mahasiswa

    Mahasiswa Papua di Makassar Desak Investigasi Dugaan Pelanggaran HAM dan Dorong Dialog untuk Intan Jaya

    Dua Anggota TPNPB dan Seorang Warga Sipil Tewas dalam Operasi Militer di Yahukimo 

    IPMADO Dogiyai Tuntut Hentikan Militerisasi Pasca 5 Warga Tewas

    IPMADO: Kehadiran Militer Picu Ketakutan dan Lumpuhkan Aktivitas Warga Dogiyai

    Forum Solidaritas Mahasiswa di Gorontalo Serukan Perlindungan Warga Sipil dan Dialog Damai untuk Papua

    YKKMP: Penembakan Pilot dan Pembakaran Pesawat di Yahukimo Bertentangan dengan Prinsip Hukum Humaniter Internasional

  • Kesehatan

    Selamatkan Anak Negeri Paniai! KPA Gelar Sosialisasi Kepada Sahabat 06 Meepago Korwil Panai Diajak Cegah HIV/AIDS

    KPA Paniai Edukasi Ratusan Siswa SMP Negeri 1 Aradide tentang Pencegahan HIV/AIDS

    Adinkes Papua Tengah Perkuat Kemitraan PP-ATM di Paniai, Dorong Sinergi Lintas Sektor hingga Tingkat Kampung

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS bagi Ratusan Siswa Baru SMA Negeri 1 Paniai

    KPA Paniai Gelar Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS bagi Mudika Paroki Kristus Jaya Komopa, Tekankan Edukasi dan Hapus Stigma

    KPA Paniai Kembali Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS di Jemaat Maranatha Klasis Agadide

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Training Tutor, Membangun Generasi Berkarakter dan Berdaya Saing

    PAR Koordinator Aweepaida Paniai Gelar Seminar dan Pelatihan, KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi HIV-AIDS 

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

  • Lingkungan

    Masyarakat Paniai Himbau Hentikan Pembakaran Hutan, Siap Serahkan Pelanggar ke Jalur Hukum

    Porter Yonii Paniai Apresiasi Kepedulian Bupati Yampit Nawipa, Minta Sekretariat Resmi untuk Tingkatkan Pelayanan

    Intelektual dan Mahasiswa Distrik Fajar Timur Gelar Konsolidasi Perdana, Bahas Persiapan MUBES Ke-II

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Pemkab Nabire atas Bantuan Bibit Jagung bagi Petani

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Rapat Panitia Persiapan Training Tutor AIDS

    DPW Tani Merdeka Papua Tengah Sosialisasi dan Tinjau Sektor Perikanan di Paniai

    Pemuda Kingmi Klasis Bogobaida Rayon Nabire Bergerak Galang Dana untuk Ret-Treat Akbar

    Porter Yonii Paniai Ajak Sopir dan Petugas Terminal Jaga Kekompakan di Karel Gobai Enarotali

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

  • Pendidikan

    Mahasiswa Afirmasi ADIK-ADEM Asal Intan Jaya Desak Pemkab Segera Cairkan Beasiswa, Sampaikan Delapan Tuntutan

    Kabid TK-PAUD Paniai: Sebanyak 515 Siswa dari 31 TK dan PAUD Telah Menyelesaikan Pendidikan Tahun Ajaran 2026

    Ketua BEM STAK Nabire Ajak Ratusan MABA 2026 Pahami Aturan Akademik dan Budaya Disiplin

    Di MPLS SMAN 2 Dogiyai, Kepala Distrik Kamuu Ajarkan Pemimpin Melayani

    TK Negeri Waikato Paapaa Aikai Buka Pendaftaran Peserta Didik Baru, Pendidikan Berkualitas Tanpa Dipungut Biaya

    TK Negeri Kagama Resmi Tamatkan 8 Siswa, Begini Pesan Kabid TK-Paud

    TK Negeri Ekadide Resmi Tamatkan 19 Siswa, Siapkan Generasi Emas Paniai

    17 Siswa TK Efata Kugitadi Resmi Ditamatkan, Kepala Sekolah Tekankan Pentingnya Pendidikan Sejak Dini

    TK Negeri Bobamo Gelar Penamatan, Kabid TK-Paud Apresiasi Dewan Guru dan Orang Tua 

  • Religi

    Panitia HUT Merangkap Natal 2026 Pos PI Maranatha Resmi Dilantik, Begini Pesan Hamba Tuhan

    Ketua Klasis Debei Letakkan Batu Pertama Rumah Pastori Jemaat Anugrah Dadimani

    Orang Muda Katolik Tulang Punggung Gereja, KYD Jadi Sarana Pembinaan Berkelanjutan

    Tutup KYD ke-5: Orang Muda Katolik Diminta Miliki Iman Militan dan Optimis

    OMK Diajak Hidupkan Budaya dan Iman Atasi Penyakit Sosial di Dogiyai

    Bangun Karakter Kuat, KYD 2026 Tekankan Nilai Kedamaian dan Keutuhan

    Komisi Kepemudaan: Datang ke Kamapi Youth Day, Pulang Harus Bawa “Hasil”

    Uskup Timika Buka Kamapi Youth Day 2026

    Misa Pembukaan KAMAPI Youth Day, Uskup Bernardus: Orang Muda adalah Aset Berharga

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Politik

SETARA Tegaskan Papua Sedang Hadapi Kolonialisme Modern, Desak Hak Penentuan Nasib Sendiri

by Derek Kobepa
29 Mei 2026
in Politik
0
SHARES
48
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Aliansi Selamatkan Tanah Air (SETARA) Papua secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap politik terkait situasi Tanah Papua yang dinilai semakin mengkhawatirkan akibat ekspansi investasi, militerisasi, eksploitasi sumber daya alam, serta berbagai proyek negara yang dianggap mengatasnamakan pembangunan namun justru meminggirkan rakyat asli Papua dari tanah dan ruang hidup mereka sendiri.

Pernyataan sikap tersebut disampaikan di Abe Lingkaran, Jayapura, Papua,  Kamis (29/5/2025), dan ditandatangani langsung oleh Ketua/Penanggung Jawab SETARA, Stenli Dambujay, bersama Koordinator Lapangan, Lovivi.

Dalam keterangannya kepada media, Stenli Dambujay menegaskan bahwa kondisi yang sedang terjadi di Papua saat ini bukan lagi sekadar persoalan pembangunan, melainkan bentuk kolonialisme modern yang terus berlangsung melalui pendekatan militer, eksploitasi sumber daya alam, dan dominasi politik negara terhadap rakyat Papua.

“Papua hari ini sedang menghadapi situasi yang sangat genting. Di tengah masifnya investasi, militerisasi, eksploitasi sumber daya alam, serta proyek-proyek negara yang mengatasnamakan pembangunan, rakyat Papua justru terus mengalami marginalisasi, perampasan tanah adat, intimidasi politik, pelanggaran HAM, dan penghancuran identitas sosial budaya,” tegas Stenli Dambujay.

Menurutnya, film dokumenter *Pesta Babi* telah membuka mata publik mengenai realitas yang selama ini dialami rakyat Papua. Film tersebut dinilai memperlihatkan bagaimana kolonialisme modern bekerja secara sistematis di Tanah Papua melalui penggusuran tanah adat, masuknya aparat militer untuk mengawal investasi berskala besar, penghancuran hutan, hingga pembungkaman ruang demokrasi.

“Film itu bukan hanya karya seni, tetapi cermin dari kenyataan yang dialami rakyat Papua selama puluhan tahun. Ada penghancuran ruang hidup, ada intimidasi terhadap masyarakat adat, dan ada eksploitasi besar-besaran atas tanah Papua,” ujar Stenli.

SETARA menilai bahwa proyek-proyek seperti perkebunan tebu, sawit, food estate, pertambangan, serta Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke dan sejumlah wilayah lain di Papua telah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan masyarakat adat Papua.

Bagi masyarakat Papua, lanjut Stenli Dambujay, hutan bukan hanya sekadar sumber ekonomi, tetapi merupakan ruang spiritual, tempat leluhur berdiam, sumber identitas budaya, dan bagian penting dari kehidupan generasi masa depan.

“Ketika hutan dihancurkan demi investasi dan proyek negara, maka yang dihancurkan bukan hanya pohon dan tanah, tetapi sejarah, budaya, serta masa depan rakyat Papua,” katanya.

SETARA juga menyoroti sejarah panjang kolonialisme di Papua yang disebut telah berlangsung sejak operasi militer pasca Trikora tahun 1961 hingga integrasi Papua ke dalam Indonesia yang sampai hari ini masih dipersoalkan oleh sebagian besar rakyat Papua.

Menurut mereka, pendekatan keamanan melalui militerisasi, operasi militer, transmigrasi, eksploitasi ekonomi, dan sentralisasi kekuasaan telah menjadi instrumen negara dalam mempertahankan kontrol atas Papua yang kaya sumber daya alam.

“Dalam praktiknya, kolonialisme modern di Papua dijalankan melalui aliansi negara, militer, oligarki politik, elit lokal, serta korporasi nasional maupun internasional. Papua dijadikan ladang eksploitasi ekonomi, sementara rakyat asli Papua terus dimarginalkan di tanah sendiri,” lanjut Stenli.

SETARA memandang bahwa persoalan Papua bukan sekadar persoalan pembangunan yang salah arah, melainkan persoalan kolonisasi, pendudukan politik, dan eksploitasi sumber daya alam yang berlangsung secara sistematis.

Karena itu, SETARA menilai perjuangan rakyat Papua tidak dapat dipisahkan dari perjuangan melawan kolonialisme, imperialisme, militerisme, kapitalisme ekstraktif, dan segala bentuk penindasan terhadap manusia maupun alam Papua.

Selain itu, SETARA juga menyerukan pentingnya konsolidasi politik rakyat Papua yang lebih kuat dan berakar pada rakyat kecil. Gerakan perjuangan Papua dinilai tidak boleh berhenti pada simbolisme dan retorika elit semata, tetapi harus membangun organisasi rakyat yang demokratis, progresif, dan mampu menyatukan seluruh kekuatan sosial rakyat Papua.

Baca Juga:

Mahasiswa Paniai Serahkan Aspirasi Penolakan DOB, Investasi PT Minerba, dan Penambahan Militer di Paniai

IPMANAPANDODE dan AMP Semarang-Salatiga Sampaikan 16 Poin Pernyataan Sikap Terkait Situasi Papua Tengah

IPMADO Dogiyai Tuntut Hentikan Militerisasi Pasca 5 Warga Tewas

Mahasiswa Paniai Se-indonesia Jakarta Gelar Pernyataan Sikap Tolak Dob, Militerisme, dan Investasi Tambang

Dalam pernyataannya, SETARA menegaskan bahwa Hak Menentukan Nasib Sendiri (HMNS) merupakan jalan demokratis untuk mengakhiri kolonialisme di Papua.

“Rakyat Papua berhak menentukan masa depannya sendiri secara bebas, demokratis, dan bermartabat tanpa intimidasi, tanpa moncong senjata, dan tanpa paksaan politik dari kekuatan kolonial mana pun,” tegas Stenli Dambujay.

SETARA juga mengajak rakyat Indonesia agar melihat persoalan Papua bukan semata dari propaganda negara, tetapi dari kenyataan penderitaan rakyat Papua sendiri.

Selain itu, mereka menyerukan solidaritas internasional dari organisasi HAM, komunitas akademik, gereja, gerakan lingkungan, dan gerakan anti-kolonialisme dunia agar mendukung perjuangan rakyat Papua.

Menurut SETARA, dunia internasional perlu melihat bahwa yang sedang terjadi di Papua bukan hanya krisis HAM, tetapi juga ancaman ekosida, penghancuran masyarakat adat, dan pembungkaman demokrasi.

Dalam pernyataan sikap tersebut, SETARA menyampaikan 21 poin tuntutan sebagai berikut:

  1. Tolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke dan di seluruh tanah Papua yang merampas tanah adat serta menghancurkan ruang hidup rakyat Papua dan Mendukung penuh perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan tanah, hutan, sungai, beserta ruang hidupnya dari segala bentuk monster investasi dan eksploitasi.
  2. Tutup Freeport, BP, LNG Tanguh dan seluruh Perusahaan raksasa lainnya sebagai simbol eksploitasi sumber daya alam dan actor kolonisasi atas Tanah Papua.
  3. Segerah Cabut kebijakan Otonomi Khusus di Tanah Papua yang terbukti telah gagal, kacau balau dan menjadi pintu masuk kehancuran bagi rakyat bangsa Papua.
  4. Menolak program Koperasi Merah Putih dari Pemerintah Kolonial Indonesia yang dijalankan tanpa partisipasi rakyat Papua.
  5. Menolak segala upaya pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Tanah Papua karena berpotensi mengancam eksistensi maupun ruang hidup, dan berpotensi memarginalkan rakyat bangsa Papua di tanah sendiri.
  6. Menolak segala bentuk program transmigrasi, transmigrasi patriot dan sejenisnya di Tanah Papua karena berpotensi menghemoni, mengkolonisasi dan memarginalkan rakyat bangsa Papua di tanah sendiri.
  7. Menolak program transmigrasi yang akan mempercepat marginalisasi orang asli Papua di tanah sendiri.
  8. Tarik (TNI-Polri) Organik dan Non-Organik dari seluruh tanah Papua.
  9. Tarik Militer kambali ke barak.
  10. Hentikan seluruh operasi militer dan pendekatan militeristik di Tanah Papua.
  11. Menolak rencana pembangunan Kepolisian Daerah (POLDA) dan Komando Daerah Militer (KODAM) baru beserta Batalyon Infantri Teritorial Pembangunan di Tanah Papua.
  12. Menolak pembangunan dar perluasan Dermaga Satrol TNI-AL di sekitar area pelabuhan lautJayapura karena berpotensi mensabotase area pantai milik Gereja GKI Pengharapan, Kota Jayapura.
  13. Menolak proyek pembangunan Bandara Antariksa di Pulau Biak (Papua) dan Pembangunan Infanteri Teritorial Pembangunan 858 karena berpotensi mengancam ruang hidup masyarakat adat dan lingkungan hidup.
  14. Mendesak pemberhentian perang antara TNI/Polri dan TPNPB di wilayah pemukiman masyarakat sipil, terutama pada area-area pengungsian akibat konflik bersenjata.
  15. Hentikan teror, intimidasi, kriminalisasi, dan represi terhadap aktivis HAM, aktivis lingkungan, jurnalis, mahasiswa, dan aktivis politik Papua.
  16. Hentikan impunitas terhadap pelaku pelanggaran HAM di Papua.
  17. Meminta pengusutan seluruh kasus pelanggaran HAM berat di Tanah Papua secara adil dan transparan.
  18. Mendesak penghentian segala bentuk kekerasan terhadap perempuan Papua dan anak, serta perlunya perlindungan terhadap hak-hak perempuan dan anak, termasuk bagi warga pengungsi di wilayah konflik di Tanah Papua.
  19. Bebaskan seluruh tahanan politik Papua Barat tanpa syarat.
  20. Mendesak perlu dibukanya akses seluas-fuasnya bagi jurnalis internasional, pegiat HAM internasional dan Dewan HAM PBB untuk bekerja dan melakukan investigasi independen terhadap situasi pelanggaran HAM di Tanah Papua.
  21. Berikan Hak penentuan Nasib sendiri bagi rakyat Papua sebagai Solusi Demokratis guna mengakhiri kolonialisme dan penindasan di Papua Barat yang sudah berlangsung selama lebuh dari 60 tahun.

Di akhir pernyataannya, SETARA menegaskan bahwa perjuangan rakyat Papua merupakan perjuangan kemanusiaan yang harus mendapat dukungan luas dari masyarakat dunia.

“Ketika tanah dirampas, hutan dihancurkan, budaya dimusnahkan, dan rakyat dibungkam dengan kekuatan senjata, maka yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan Papua, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan,” tutup Stenli Dambujay.

SETARA juga menyerukan persatuan rakyat Papua, rakyat Indonesia, dan solidaritas internasional untuk bersama-sama melawan kolonialisme, militerisme, eksploitasi sumber daya alam, dan segala bentuk penindasan terhadap rakyat Papua.

“Papua bukan tanah kosong. Papua adalah tanah kehidupan, tanah leluhur, dan tanah harapan bagi generasi masa depan,” demikian tutup pernyataan sikap SETARA. (*)

Post Views: 573
Tags: Aliansi Selamatkan Tanah AirHak PolitikHak SipilMiliterismeSETARA PapuaTolak DOBTolak Perusahaan
Previous Post

TK Negeri Waikato Paapaa Aikai Gelar Rapat Kelas Orang Tua di Akhir Semester Bahas Pendidikan Anak Usia Dini

Next Post

Mahasiswa Paniai Se-indonesia Jakarta Gelar Pernyataan Sikap Tolak Dob, Militerisme, dan Investasi Tambang

Derek Kobepa

Derek Kobepa

BERITA TERKAIT

Politik

KNPB Yalimo Gelar Aksi Damai: “New York Agreement Cacat Moral dan Hukum, Hak Politik Papua Dipertanyakan”

4 minggu ago
Politik

KNPB Se-Meepago Antar Surat Pemberitahuan Aksi 15 Agustus 2026 ke Sejumlah Instansi di Papua Tengah

4 minggu ago
Papua

KNPB Sentani Serukan Konsolidasi dan Aksi Nasional 15 Agustus 2026 di Tanah Tabi Papua

4 minggu ago
Politik

KNPB Wilayah Nabire Gelar Aksi Long March, Sampaikan Sembilan Poin Pernyataan Sikap

1 bulan ago
Papua

Abni Auwe Terima SK DPC PBB Dogiyai, Siap Penuhi Syarat Verifikasi Pemilu 2029

1 bulan ago
Politik

Senator Papua Tengah Serukan Dialog Damai, Minta Papua Tidak Dijadikan Arena Konflik

2 bulan ago
Next Post

Mahasiswa Paniai Se-indonesia Jakarta Gelar Pernyataan Sikap Tolak Dob, Militerisme, dan Investasi Tambang

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved